TANGERANG SELATAN. Sebanyak 240–250 generus (generasi penerus) Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Ciputat Timur mengikuti penutupan Asrama Liburan Sekolah (ALIS) di Gedung Serbaguna (GSG) BIM, Jumat (26/6/2026). Kegiatan ini menjadi momentum pembentukan karakter anak sejak usia dini sekaligus mengisi waktu libur dengan aktivitas yang positif, edukatif, dan bernilai keislaman.
Ketua Generus PC LDII Ciputat Timur, Nur Kholis, menjelaskan ALIS merupakan program rutin yang digelar setiap masa libur sekolah dan berlangsung selama lima hari, Senin hingga Jumat. Asrama untuk generus tingkat SMP dan SMA dipusatkan di PC, sedangkan generus jenjang PAUD hingga SD mengikuti kegiatan di Pengurus Anak Cabang (PAC) masing-masing. Khusus penutupan, seluruh peserta dikumpulkan di PC sebagai bentuk kebersamaan dan apresiasi atas seluruh rangkaian kegiatan.
Penutupan diikuti sekitar 240–250 anak. Sebanyak 40–50 di antaranya merupakan generus tingkat SMP dan SMA, sementara sekitar 200 anak berasal dari jenjang PAUD, TK, dan SD yang tergabung dalam kelompok Anak Cabe Rawit (ACR). Kegiatan ini diarahkan tidak sekadar menjadi ajang bermain, tetapi juga memotivasi generus untuk terus mengembangkan potensi diri serta mengamalkan 29 Karakter Luhur LDII dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Antusiasme Peserta dan Orang Tua
Nur Kholis menyebut respons peserta maupun orang tua sangat positif. Antusiasme anak-anak, kata dia, terlihat sejak hari pertama hingga penutupan.
“Orang tua mengapresiasi program ini karena selama liburan anak-anak mendapatkan pembinaan yang terarah, tidak hanya melalui materi keagamaan, tetapi juga pembiasaan sikap dan perilaku yang mencerminkan 29 Karakter Luhur LDII,” ujarnya.
Pengurus PPG, Ali Nur Abdul Aziz, menilai manfaat kegiatan sangat besar karena anak-anak mengisi waktu liburan dengan aktivitas bermanfaat, terutama dari sisi keilmuan. Ia mengaitkan pembinaan tersebut dengan pembentukan 29 karakter luhur yang dinilai semakin penting seiring pertumbuhan generus.
“Ketika anak-anak memiliki karakter yang luhur, ke depan mereka akan lebih mudah diterima di masyarakat, sehingga bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, agama, serta bangsa dan negara,” ucapnya.
Belajar lewat Permainan dan Kerja Sama Tim
Perwakilan Guru Generus, Dinda Ristia Lail, memaparkan metode kegiatan disesuaikan dengan usia peserta. Untuk anak PAUD dan TK, panitia menyiapkan media belajar seperti menggunting, menempel, serta permainan tanya jawab. Adapun peserta jenjang SD diberi permainan di tiap pos yang menuntut kerja sama tim yang kompak.
“Anak-anak belajar menyelesaikan masalah dan mencari jalan keluar sendiri. Kami melatih mereka agar lebih vokal dan kompetitif, dan alhamdulillah apa pun hasil yang diperoleh, mereka tetap berlapang dada,” kata Dinda.

Ia mengakui tantangan terbesar bagi dewan guru adalah mengakrabkan anak-anak dengan rentang usia yang berbeda dalam satu tim. Namun, menurutnya, peserta mampu saling menurunkan ego dengan dukungan para pembimbing yang peka dan aktif merangkul agar setiap anak mudah beradaptasi.
Kesan Peserta dan Perubahan pada Anak
Kesan positif juga disampaikan peserta dari kelompok ACR, Almira dan Adeeva. Keduanya mengaku senang mengikuti rangkaian permainan yang dikemas dalam format kompetisi antartim.
“Seru dan menarik. Kami dibagi menjadi tim, lalu mengumpulkan poin dengan mengerjakan soal, sampai akhirnya tim kami menang dan mendapat hadiah,” kata mereka. Keduanya berharap dapat kembali mengikuti kegiatan serupa karena bisa bertemu banyak teman, bermain bersama, dan mendapat banyak camilan.
Sementara itu, perwakilan orang tua generus, Uun Farida, merasakan dampak positif kegiatan terhadap kebiasaan anak. Menurutnya, durasi mengaji yang lebih lama serta pembiasaan ibadah seperti salat Duha di sela kegiatan membuat anak-anak berkurang bermain gawai.

“Perubahan yang saya perhatikan, anak-anak lebih memahami praktik ibadah seperti salat Duha dan doa sehari-hari. Kemandirian mereka juga meningkat, dikerjakan tanpa disuruh meski sesekali tetap diingatkan,” tuturnya.
Melalui ALIS, PC LDII Ciputat Timur berharap pembentukan karakter generus dapat tumbuh sejak usia dini sehingga nilai-nilai keislaman dan 29 karakter luhur benar-benar diamalkan dalam keseharian di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. (*)

